by

Gapura Selamat Datang, Dikritik

Loading…

Pacitan

Pacitan – Keberadaan gapura selamat datang di perbatasan Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, banyak menuai kritik. Itu terkait design bangunan gapura yang dinilai kurang mencerminkan icon Kabupaten Pacitan sebagai kota wisata. Selain itu, dimensi tulisan “Selamat Jalan dan Sugeng Rawuh” yang terpampang di atas gapura, dianggap terlalu kecil. Sehingga sulit terbaca bagi para pengendara yang melintas dikawasan tersebut. Sumiati, warga sekitar mengatakan, bangunan gapura selamat datang di perbatasan Kabupaten Pacitan dengan Kabupaten Ponorogo itu, dianggap kurang memenuhi nilai estetika. Sekalipun berdiri megah, namun design perencanaannya belum mencerminkan keberadaan Kabupaten Pacitan sebagai kota wisata yang akan didatangi banyak tamu dari luar daerah. “Mestinya disekeliling gapura, bisa dibangun taman-taman buatan yang mencerminkan kalau Kabupaten Pacitan banyak memiliki potensi wisata. Sehingga para pengendara dari luar kota yang melintas dilokasi tersebut, akan punya obsesi dan tergerak mengunjungi objek-objek wisata yang ada di Pacitan,” kritiknya, Rabu (14/1).
Selain belum mencerminkan nilai-nilai seni dan keindahan, kalimat sapaan yang terangkai digapura, dinilai sangat kecil. Tentu saja, para pengendara yang memang tidak fokus melongok ke atas gapura, tidak akan bisa membaca tulisan tersebut. “Jadi seperti gak ada artinya, keberadaan gapura tersebut. Hanya bangunan tinggi, namun makna dari gerbang pintu masuk itu, terabaikan,” sahut Andi, warga lainnya.
Sementara itu, saat dihubungi secara terpisah, Kasie Tata Bangunan, Bidang Cipta Karya, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan (DCKTB) Kabupaten Pacitan, Tonny Setyo Nugroho, menegaskan, pihaknya tidak terlibat langsung dalam penentuan design gapura tersebut. Ia beralasan, perencanaan design gapura dilaksanakan dengan sistem sayembara yang diikuti masyarakat umum, lembaga, ataupun instansi. “Kami hanya berkompeten pada sisi struktur dan konstruksi bangunan. Soal design, panitia sayembara yang menentukan,” kata Tonny, kemarin.
Menurutnya, panitia sayembara terdiri dari beberapa elemen. Selain melibatkan praktisi seni dan budaya, praktisi media, LSM, juga instansi terkait. Saat sayembara digelar diawal Tahun 2014 lalu, lanjut Tonny, panitia memutuskan Muhammad Nur Hidayat, warga Dusun Sundeng, Desa Bangunsari, Kecamatan Pacitan, sebagai pemenang pertama design gapura dan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 3 juta. “Design tersebut yang dijadikan acuan kami melaksanakan kegiatan pembangunan gapura dengan mekanisme tender,” jelasnya.
Lebih lanjut Tonny mengungkapkan, terkait dimensi huruf dalam rangkaian kalimat sapaan diatas gapura yang dinilai terlalu kecil, pihak penyedia jasa, yaitu CV. Dewangga bersedia memberikan partisipasinya memberbesar tulisan tersebut. “Pihak penyedia jasa bersedia merubah dimensi huruf agar lebih besar. Namun itu hanya partisipasi, sebab sesuai spec teknisnya, pekerajaan itu sudah benar sesuai volume yang ditentukan,” tandasnya. (yun).

banner 300250

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed