by

Kirab 1001 Keris, Kirab Senjata Penuh Makna

Loading…

Solo – Sura merupakan bulan istimewa bagi masyarakat Jawa. Tradisi mengajarkan bahwa Sura penuh dengan keprihatinan, penghayatan akan laku hidup, serta sikap eling dan waspada terhadap godaan dan marabahaya.

Loading...

Tradisi-tradisi tersebut masih terbilang lestari di Kota Surakarta, yang notabene menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa kuno. Bersamaan dengan laku prihatin tersebut, Pemkot Surakarta pun memperlakukan Sura sebagai bulan khusus untuk mendukung pengembangan dan pelestarian budaya tradisional.

Betapapun, Surakarta adalah Kota Budaya. Keanekaragaman budaya, mulai tarian, pakaian, literatur, hingga pusaka, dinilai Pemkot layak untuk disebarluaskan kepada khalayak bersamaan dengan momentum Sura. Sekalipun dalam berbagai kesempatan pengenalan itu senantiasa dilakukan, sebagai bagian dari edukasi kepada warganya.

Tahun ini, salah satu peninggalan luhur budaya Jawa yang disosialisasikan Pemkot adalah keris. Dikemas apik dalam Kirab 1001 Keris, keistimewaan sebuah keris ingin dikenalkan Pemkot kepada khalayak.

“Keris itu bukan hanya senjata tradisional, tapi ada makna filosofis di dalamnya. Keris juga warisan leluhur yang sudah diakui Unesco (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB),” tegas Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.

Sebagai senjata tradisional, keris dinilai Wali Kota perlu dikenal setiap generasi. “Akan lucu kalau anak bangsa Indonesia sendiri tidak tahu keris.”

Karena itu tidak mengherankan, karnaval yang berjalan dari Loji Gandrung menuju Museum Keris Nusantara tersebut menyertakan 1.001 bilah keris yang dibawa para peserta. Peserta kirab yang baru pertama digelar Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Dinas Kebudayaan itu berasal dari organisasi perangkat daerah (OPD), Muspida, perwakilan kelurahan, mahasiswa, pecinta keris, kurator, pemain Wayang Orang (WO) Sriwedari, hingga kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Membelah kerumunan pengunjung Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, lebih dari 1.000 peserta kirab terlihat semarak mengenakan beskap, kebaya maupun pakaian adat Nusantara lainnya.

“Seperti namanya, Kirab 1001 Keris ini membawa 1.001 bilah keris. Sebanyak 1.000 keris dibawa masing-masing peserta. Kirab ini jadi bagian dari kegiatan Sura Bulan Kebudayaan yang digelar setiap tahun,” imbuh Kepala UPT Museum, Didik Sunaryono.

Adapun sebilah keris lainnya, diperlakukan istimewa. Keris tersebut diletakkan di atas jodang, berhias untaian bunga melati dan janur kuning, serta ditandu sejumlah peserta. “Keris itu hibah dari Presiden Joko Widodo (Jokowi),” jelas Didik.

Lazimnya keris pusaka lainnya, keris hibah orang nomor satu di Indonesia tersebut juga bukan sembarang senjata. Selain berhias emas dan berlian, keris yang dinamai Kiai Tengara dan dihibahkan Presiden pada 2017 itu, diyakini memiliki makna mendalam.

“Keris Kiai Tengara memiliki lima luk atau lekuk yang menyimbolkan Pancasila. Kemudian dhapur­-nya ialah lar monga, yakni gajah yang memiliki sayap,” ungkap seorang empu yang turut serta dalam kirab tersebut, Totok Brojodiningrat.

Ia membeberkan bahwa gajah merupakan simbol Ganesha atau ilmu pengetahuan. Adapun sayap memiliki maksud melanglang buana. “Nama Kiai Tengara sendiri diartikan sebagai penanda bebunyian supaya kita selalu tanggap atau siap,” tuturnya. (**)

banner 300250

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed