Asri Purwanti Pimpin ATI Jateng 2026–2031, Siap Benahi Total Pembinaan Tinju

  • Whatsapp

Solo,Karysma.com  – Pesan tegas langsung dilontarkan Ketua DPW Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) Jawa Tengah terpilih, Asri Purwanti: tidak ada ruang untuk stagnasi. Tinju Jawa Tengah harus naik level sekarang, bukan nanti.

“Kalau ingin berprestasi, kita harus berani berubah. Tidak bisa lagi jalan biasa-biasa saja,” tegas Asri dikantornya Minggu (22/03/2026).

Read More

Ia menilai selama ini potensi petinju di Jawa Tengah besar, namun tidak diikuti sistem pembinaan yang konsisten. Minimnya kompetisi dan lemahnya penguatan SDM menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibereskan.

Karena itu, Asri langsung menyiapkan langkah agresif. Kejuaraan akan diperbanyak, pembinaan usia dini diperkuat, serta pelatih dan wasit akan ditingkatkan kualitasnya melalui program pelatihan terstruktur.

Menurutnya, tanpa jam terbang dan sistem yang jelas, mustahil melahirkan atlet berkelas.

“Atlet tidak cukup hanya latihan. Mereka butuh panggung, butuh kompetisi, butuh sistem yang mendukung,” ujarnya.

Asri yang juga sebagai Ketua DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jawa Tengah menegaskan pentingnya konektivitas dengan pengurus pusat agar atlet Jawa Tengah tidak terisolasi di level daerah, melainkan bisa menembus ajang nasional hingga internasional.

“Kita harus tembus keluar. Jangan hanya jadi penonton di rumah sendiri,” tandasnya.

Di balik pernyataan keras tersebut, Pengurus Pusat ATI memang tengah melakukan langkah serius. Restrukturisasi dilakukan sebagai bagian dari pembenahan organisasi secara menyeluruh.

Melalui Surat Keputusan Nomor: 01/ATI/SK/III/2026 yang diteken di Jakarta, ATI resmi menunjuk Asri Purwanti sebagai Ketua DPW Jawa Tengah periode 2026–2031.

Penunjukan ini menjadi sinyal bahwa Jawa Tengah tidak lagi diposisikan sebagai wilayah biasa. ATI melihat daerah ini sebagai ladang besar calon petinju, namun membutuhkan kepemimpinan yang berani dan progresif.

Plt. Ketua Umum ATI Pusat, Ester Situmorang, bahkan memberi garis tegas: kepengurusan baru harus langsung bekerja, bukan sekadar mengisi struktur.

“Tidak ada tempat untuk pengurus simbolik. Harus ada hasil. Harus ada atlet. Harus ada prestasi,” tegasnya.

Dengan mandat tersebut, tekanan sekaligus peluang kini ada di tangan kepengurusan baru. Jika program berjalan sesuai arah, Jawa Tengah berpotensi menjelma menjadi pusat kekuatan baru tinju Indonesia.

Sebaliknya, jika gagal bergerak cepat, potensi besar itu akan kembali terbuang.(Tono).

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *