Heroisme 41 Ribu Warga Bedol Desa Jangan Sirna oleh Lumpur Sedimentasi Waduk Gajah Mungkur

  • Whatsapp

Jakarta – Dr. H. Hamid Noor Yasin, M.M., Anggota DPR RI Komisi V Fraksi PKS, kembali mengingatkan pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum (PU), mengenai kondisi kritis Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Wonogiri.

Dalam rapat kerja bersama Menteri PU, Rabu, 3 Juni 2026, politisi senior PKS tersebut menyampaikan aspirasi mendesak agar heroisme warga yang pernah mengikuti program bedol desa dan transmigrasi demi pembangunan waduk tidak berakhir sia-sia akibat laju sedimentasi yang semakin mengkhawatirkan.

Read More

Menurutnya, usia efektif waduk kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 5–6 tahun lagi apabila tidak segera dilakukan langkah penanganan yang serius.

Waduk Gajah Mungkur yang dibangun pada era Presiden Soeharto dan diresmikan pada tahun 1974 memiliki peran strategis sebagai pengendali banjir Sungai Bengawan Solo yang selama ini melindungi wilayah Surakarta, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, serta daerah hilir lainnya.

“Pak Menteri, perlu dilakukan kajian serius untuk mengatasi sedimentasi yang membuat kondisi waduk semakin kritis. Saat ini Waduk Gajah Mungkur berfungsi sebagai penyedia irigasi, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pengendali banjir, sekaligus penopang pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar waduk. Dulu, sebanyak 41.369 jiwa rela bedol desa dan meninggalkan makam leluhurnya demi pembangunan waduk ini. Jangan sampai pengorbanan tersebut menjadi sia-sia. Saat ini kita menghadapi darurat sedimentasi dari sembilan sungai yang bermuara ke waduk, terutama Sungai Keduang dan Sungai Wiroko di Tirtomoyo,” tegas Hamid.

Berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, laju sedimentasi aktual mencapai 4,6 juta meter kubik per tahun atau hampir tiga kali lipat dari batas aman yang direncanakan dalam desain awal waduk.

Akibatnya, kemampuan Waduk Gajah Mungkur dalam mengendalikan banjir terus menurun. Kapasitas tampung banjir yang pada tahun 1980 mencapai 220 juta meter kubik kini menyusut menjadi sekitar 153,9 juta meter kubik. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu kembali banjir besar yang pernah melanda wilayah Solo Raya dan sekitarnya.

Selain ancaman banjir, keberlangsungan PLTA berkapasitas 12,4 MW yang memasok jaringan listrik Jawa-Bali juga terancam, terutama pada musim kemarau. Tidak hanya itu, sistem irigasi yang mengairi sekitar 23.200 hektare lahan pertanian, serta mata pencaharian ribuan nelayan dan petani keramba jaring apung di kawasan waduk, turut berada di ambang risiko.

Sebagai solusi, Hamid mendesak pemerintah untuk segera melakukan pengerukan sedimentasi, membangun sejumlah cek dam sebagai penahan lumpur di daerah tangkapan air, serta memperkuat program reboisasi di kawasan hulu.

“Saya meminta agar segera dilakukan pengerukan sedimentasi, pembangunan beberapa cek dam penahan lumpur di wilayah tangkapan air, serta reboisasi hutan-hutan di kawasan hulu. Waduk Gajah Mungkur adalah warisan pembangunan yang lahir dari pengorbanan besar masyarakat. Karena itu, keberlanjutannya harus kita selamatkan bersama,” pungkas Hamid dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Menteri PU.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *