Boyolali, Karysmafm.com – Ratusan siswa memenuhi pendopo salahsatu rumah makan bernuansa Jawa di wilayah Ngemplak, Boyolali, Kamis (2/4/2026). Bukan sekadar tempat bersantap, lokasi ini menjadi ruang belajar budaya bagi para pelajar yang diajak menyelami kembali akar tradisi Jawa.
Melalui kegiatan diskusi budaya bertema “Nguri-uri Kebudayaan Jawi”, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Jawa Tengah menghadirkan konsep yang lebih membumi: memadukan diskusi, pergelaran seni, dan pemutaran film budaya dalam satu rangkaian acara.
Pamong Budaya Ahli Muda, Wahyu Kristanto, menegaskan bahwa pendekatan konvensional sudah tidak cukup untuk menarik minat generasi muda.
“Kalau hanya ceramah, anak-anak sekarang cepat bosan. Maka kita kemas dengan cara yang lebih menarik ada tontonan, ada diskusi, ada pengalaman langsung. Intinya, kita ingin budaya itu terasa dekat,” ungkapnya.
Peserta yang merupakan siswa SMA Negeri 1 Ngemplak Boyolali tampak antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Terlebih, mereka juga diajak mengenal lebih dalam seni wayang dan karawitan yang selama ini mulai jarang disentuh generasi muda.
Menurut Wahyu, kekhawatiran akan pudarnya budaya bukan tanpa alasan. Ia menilai, tanpa upaya konkret untuk mentransfer pengetahuan kepada generasi muda, warisan budaya bisa perlahan menghilang.
“Budaya itu tidak akan bertahan kalau tidak diajarkan. Kegiatan ini menjadi salah satu cara menanamkan kecintaan sekaligus membuka jalan bagi anak-anak untuk belajar lebih jauh,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, dalang muda Ki Gondo Wartoyo tampil sebagai narasumber utama. Dengan gaya komunikatif, ia membawakan kisah Dewa Ruci yang sarat nilai pendidikan karakter.
Ia menyoroti tokoh Bima atau Bratasena sebagai simbol keteguhan, keberanian, dan integritas yang dibentuk sejak dari lingkungan keluarga, pendidikan, hingga pengalaman hidup.
“Karakter itu dibangun dari rumah, sekolah, dan lingkungan. Dalam wayang, semua sudah ada. Tinggal bagaimana kita menyampaikan dengan cara yang relevan,” paparnya.
Tak hanya menyimak, para pelajar juga diajak berdiskusi aktif. Mereka mulai melihat bahwa budaya Jawa bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bekal nilai untuk masa depan.
Kegiatan ini juga membuka peluang bagi siswa untuk mengembangkan minatnya melalui sanggar-sanggar seni yang ada di sekitar mereka. Harapannya, akan lahir generasi baru yang tidak hanya mengenal, tetapi juga mampu melestarikan budaya.
Di tengah perubahan zaman, pendekatan seperti ini menjadi jembatan penting menghubungkan tradisi dengan generasi digital, sekaligus memastikan budaya Jawa tetap hidup, berkembang, dan relevan.
Acara tersebut juga dipentaskan pagelaran wayang kulit oleh dalang cilik Ki Kondang Kalimosodo yang masih duduk dibangku sekolah dasar dan juga sinden cilik.(Tono).







