Solo – Pendidikan merupakan tulang punggung kemajuan bangsa. Dalam hal ini, guru memegang peran sentral sebagai agen perubahan sekaligus pembentuk karakter generasi penerus. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh profesionalisme guru yang mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas guru perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
Salah satu upaya nyata adalah melalui pelaksanaan Hari Belajar Guru (HBG), yang mendorong para guru menjadi pembelajar sepanjang hayat. Program ini memperkuat praktik pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan kontekstual, sebagaimana diulas dalam kegiatan bedah buku Hari Belajar Guru pada Senin, 13 April 2026.
Dalam pengantar acara, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd, menekankan peran vital guru sebagai agen perubahan yang harus mampu beradaptasi dengan tantangan abad ke-21. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki kemampuan kreatif, inovatif, dan kolaboratif.
Program Hari Belajar Guru dihadirkan sebagai momentum bagi para pendidik untuk sejenak keluar dari rutinitas, melakukan refleksi, serta mengeksplorasi pendekatan pembelajaran yang lebih relevan dan efektif bagi generasi penerus bangsa.
Lebih lanjut, Prof. Nunuk mendorong penguatan kolaborasi melalui komunitas belajar seperti KKG dan MGMP agar menjadi budaya berbagi praktik baik dan peningkatan kapasitas profesional. Ia berharap HBG tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi ruang berkelanjutan bagi guru untuk terus berkembang dan terbuka terhadap perubahan.
Terobosan Strategis
Kegiatan bedah buku ini menghadirkan Prof. Dr. Sariyatun, M.Pd., M.Hum, Kepala Program Studi S3 Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, sebagai pembedah buku karya Bramastia, Syahwa Adila Gepsi, dan Zayyana Finaul Jannah.
Menurut Prof. Sariyatun, kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Surat Edaran Nomor 5684/MDM.B1/HK.04.00/2025 tentang Hari Belajar Guru merupakan terobosan strategis dalam meningkatkan kompetensi pendidik secara berkelanjutan.
Hari Belajar Guru menjadi bagian dari Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang dilaksanakan satu kali dalam seminggu, dengan jadwal fleksibel berdasarkan kesepakatan guru, tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Ia juga menilai bahwa konsep HBG berbasis pendekatan ilmiah (scientific approach) yang sangat ideal. Namun, implementasinya memerlukan dukungan sistem yang kuat, terutama dalam pengelolaan waktu dan budaya kolaborasi.
HBG memiliki sejumlah karakteristik penting, antara lain:
Berbasis kebutuhan dan konteks praktik mengajar
Mendorong pembelajaran mandiri dan kolaboratif
Mendukung siklus refleksi dan aksi
Mendorong inovasi serta eksplorasi ilmiah
Selain itu, pendekatan sains dalam HBG berkontribusi pada:
Penguatan pembelajaran berbasis bukti (evidence-based practice)
Peningkatan keterampilan metakognitif guru
Pengembangan budaya refleksi dan inkuiri dalam komunitas belajar
Dukungan Kampus
Diskusi berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme dari berbagai kalangan, mulai dari dosen, guru, mahasiswa, hingga pemerhati pendidikan.
Salah satu peserta, Dimas Fahrudin, mengusulkan agar pelaksanaan Hari Belajar Guru melibatkan akademisi perguruan tinggi sebagai pembimbing atau mentor dalam berbagai forum seperti KKG, MGMP, KKKS, KKPS, MKKS, dan MKPS.
Menurutnya, keterlibatan akademisi dapat mempercepat transfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus memperkuat implementasi kebijakan pendidikan dari pusat ke daerah.
Kegiatan bedah buku berlangsung dalam suasana santai namun tetap serius, dan ditutup dengan sesi foto bersama.
Kesuksesan acara ini juga didukung oleh Kepala Program Studi S2 Pendidikan Sains FKIP UNS Surakarta, Dr. Puguh Karyanto, M.Si., Ph.D, dengan melibatkan mahasiswa pascasarjana serta kolaborasi bersama BRAMS Institute.







